Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 07 Juli 2014

Banjir: Buah Pahit Merajanya Kapita

     Banjir, satu bencana yang rutin terjadi setiap tahunnya di negeri ini. Di DKI Jakarta-daerah langganan banjir- 50 kelurahan tergenang. Namun kini banjir tak hanya melanda daerah itu, di Subang bahkan 12 kecamatan terendam, beberapa daerah seperti Bekasi, Indramayu, Pamanukan, Pekalongan, Pemalang. Semarang, Pati, Kudus, Jepara, dll, ribuan penduduknya terpaksa harus diungsikan karena bencana ini. 
     
     Berbagai cara yang telah dilakukan pemerintah nampaknya tidak memberikan pengaruh yang berarti. Pembangunan bendungan baru, pompa baru, kanal baru, dan fasilitas baru lainnya belum juga membuahkan hasil padalah dana yang dianggarkan tidak bisa dikatagorikan nominal yang minim. Pertanyaannya, ‘tak bisakah pemerintah mengatasi bencana ini secara tuntas?’ jawabannya pastilah tidak jika dalam penyelesaiannya pemerintah masih saja melibatkan diri dalam dunia kapitalisasi. 
     Banjir itu sendiri terjadi ketika neraca air permukaan positif. Neraca air ditentukan oleh empat faktor, yaitu curah hujan, air limpahan dari wilayah sekitar, air yang diserap tanah dan ditampung oleh penampung air, serta air yang dapat dibuang atau diimpahkan keluar. Dari semua itu hanya curah hujan yang tidak bisa dikendalikan manusia secara mutlak. 

Jumat, 27 Desember 2013

Mencari Jati Diri Pemuda Sejati

Padam tanggal 28 Oktober 2013 bertepatan dengan hari sumpah pemuda yang ke 85 tahun. Momentum ini sering kali dijadikan refleksi titik balik perjuangan Indonesia, terutama bagi kalangan pemuda untuk lebih meningkatkan rasa nasionalisme guna mempertahankan kesatuan dan persatuan NKRI dengan bersumpah untuk tetap sebangsa, sebahasa dan setanah air. Anggapan kita terhadap hari sumpah pemuda sebagai pijakan awal menuju kemerdekaan yang hakiki adalah hayalan semata. Tidak dapat dipungkiri bahwa ide pokok dari sumpah pemuda itu malah menghantarkan kita pada penderitaan baru dengan  munculnya racun semu nasionalisme.
Sering kali kita beranggapan bahwa hancurnya moral bangsa saat ini adalah karena telah hilangnya rasa nasionalsme di kalangan para pemuda. Narkoba merajalela, karena tidak nasionalis; maraknya pergaulan bebas, karena tidak nasionalis; tawuran dimana-mana pun juga karena tidak nasionalis. Semua itu menggambarkan seolah-olah nasionalisme adalah obat satu-satunya untuk menyembuhkan penyakit moral yang tengah melanda kaum pemuda saat ini.
Sejak dulu hingga sekarang, pemerintah tidak pernah berhenti untuk menyuarakan nasionalisme kepada berbagai kalangan. Namun efek nyata yang muncul sangat jauh berbeda dari apa yang diharapkan. Lantas salah siapa? Jika kita tinjau dari esensinya sebenarnya tanpa kita sadari justru dengan adanya istilah ‘nasionalisme’ itu sendirilah yang menyebabkan kekacauan. Hanya karena ‘nasionalisme’ banyak pemuda yang rela berdesak-desakan di stadion untuk membela timnas kesayangandan tak peduli jika akhirnya mereka malah terlibat adu mulut yang berujung bentrok dengan supporter tim lawan. Apakah seperti itu gambaran dari sikap nasionalisme yang selama ini diagung-agungkan? Padahal mungkin supporter tim lawan adalah kaum muslim yang pada hakikatnya kita selaku ummat islam mestinya faham betul bahwa bersaudaraan antarsesama muslim memiliki keterjalinan yang sangat kuat.