Jumat, 27 Desember 2013

Mencari Jati Diri Pemuda Sejati

Padam tanggal 28 Oktober 2013 bertepatan dengan hari sumpah pemuda yang ke 85 tahun. Momentum ini sering kali dijadikan refleksi titik balik perjuangan Indonesia, terutama bagi kalangan pemuda untuk lebih meningkatkan rasa nasionalisme guna mempertahankan kesatuan dan persatuan NKRI dengan bersumpah untuk tetap sebangsa, sebahasa dan setanah air. Anggapan kita terhadap hari sumpah pemuda sebagai pijakan awal menuju kemerdekaan yang hakiki adalah hayalan semata. Tidak dapat dipungkiri bahwa ide pokok dari sumpah pemuda itu malah menghantarkan kita pada penderitaan baru dengan  munculnya racun semu nasionalisme.
Sering kali kita beranggapan bahwa hancurnya moral bangsa saat ini adalah karena telah hilangnya rasa nasionalsme di kalangan para pemuda. Narkoba merajalela, karena tidak nasionalis; maraknya pergaulan bebas, karena tidak nasionalis; tawuran dimana-mana pun juga karena tidak nasionalis. Semua itu menggambarkan seolah-olah nasionalisme adalah obat satu-satunya untuk menyembuhkan penyakit moral yang tengah melanda kaum pemuda saat ini.
Sejak dulu hingga sekarang, pemerintah tidak pernah berhenti untuk menyuarakan nasionalisme kepada berbagai kalangan. Namun efek nyata yang muncul sangat jauh berbeda dari apa yang diharapkan. Lantas salah siapa? Jika kita tinjau dari esensinya sebenarnya tanpa kita sadari justru dengan adanya istilah ‘nasionalisme’ itu sendirilah yang menyebabkan kekacauan. Hanya karena ‘nasionalisme’ banyak pemuda yang rela berdesak-desakan di stadion untuk membela timnas kesayangandan tak peduli jika akhirnya mereka malah terlibat adu mulut yang berujung bentrok dengan supporter tim lawan. Apakah seperti itu gambaran dari sikap nasionalisme yang selama ini diagung-agungkan? Padahal mungkin supporter tim lawan adalah kaum muslim yang pada hakikatnya kita selaku ummat islam mestinya faham betul bahwa bersaudaraan antarsesama muslim memiliki keterjalinan yang sangat kuat.

 Ilustrasi di atas baru mencakup kondisi sosial. Belum lagi dengan kondisi pendidikan, ekonomi, dan politik yang idenya tentu saja diambil dari nasionalisme. Pada faktanya dari keseluruhan aspek, tidak ada satupun aspek yang berhasil menyejahterakan ummat bahkan sebaliknya, malah menyengsarakan umat dan memberikan perderitaan yang berkepanjangan. Lantas apakah kita selaku masih perlu menjalankan sumpah pemuda untuk menjunjung tinggi nasionalisme?
Seorang pemuda hendaknya menjadi tonggak utama dalam revolusi. Bahkan pemuda juga sering kali disebut dengan agent of change karena pada saat itu daya berpikir mereka sangat kuat dan kritis serta semangat yang sangat menggebu. Namun sayangnya keadaan para pemuda sekarang ini sangat jauh dari harapan. Penyakit moral yang diidap para pemuda saat ini melahirkan satu kata yaitu ‘ironis’. Selain itu, semangat kaum kuda yang menggebu serta motivasi untuk menyuarakan aspirasi semakin tinggi malah dipolitisasi oleh golongan tertentu guna mendapat keuntungan pertentu. sehingga peranpemuda hanya Nampak di permukaan saja dan setelah itu tidak ada lagi. Oleh karena hal-hal tersebutlah kita dituntut untuk mencari role model pemuda yang memiliki karakter pemuda yang sesungguhnya.
“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengansebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka mengatakan: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan  bumi; kami tidak sekali-kali menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. (QS. Al-Kahfi, 18: 13-14)

Pemuda yang seperti ditunjukkan dalam ayat di ataslah yang pantas disebut pemuda yang sesungguhnya. Dia adalah sosok yang memiliki keimanan yang tinggi, ilmu yang luas, keteguhan hati yang kuat. Mereka menjadikan aqidah sebagai landasan utama. Mereka menyandarkan ide-ide dengan cara pandang islam. Mereka akan mampu membela umat dan menjaga kehormatan mereka. Mereka pulalah yang menjadi tombak utama pusat perjuangan islam dalam mendirikan Daulah Khilafah guna menjadi wadah tegaknya syari’ah sebagai satu-satunya solusi untuk memecahkan persoalan umat yang saat ini pelik untuk dihadapi. Oleh karena itu mari kita selamatkan umat dan mengubah dunia ini menjadi lebih baik dengan menjadi pemuda dengan karakter yang sesungguhnya.

0 komentar:

Posting Komentar