Sering kali
kita beranggapan bahwa hancurnya moral bangsa saat ini adalah karena telah
hilangnya rasa nasionalsme di kalangan para pemuda. Narkoba merajalela, karena
tidak nasionalis; maraknya pergaulan bebas, karena tidak nasionalis; tawuran
dimana-mana pun juga karena tidak nasionalis. Semua itu menggambarkan seolah-olah
nasionalisme adalah obat satu-satunya untuk menyembuhkan penyakit moral yang
tengah melanda kaum pemuda saat ini.
Sejak dulu
hingga sekarang, pemerintah tidak pernah berhenti untuk menyuarakan
nasionalisme kepada berbagai kalangan. Namun efek nyata yang muncul sangat jauh
berbeda dari apa yang diharapkan. Lantas salah siapa? Jika kita tinjau dari
esensinya sebenarnya tanpa kita sadari justru dengan adanya istilah
‘nasionalisme’ itu sendirilah yang menyebabkan kekacauan. Hanya karena
‘nasionalisme’ banyak pemuda yang rela berdesak-desakan di stadion untuk
membela timnas kesayangandan tak peduli jika akhirnya mereka malah terlibat adu
mulut yang berujung bentrok dengan supporter tim lawan. Apakah seperti itu
gambaran dari sikap nasionalisme yang selama ini diagung-agungkan? Padahal mungkin
supporter tim lawan adalah kaum muslim yang pada hakikatnya kita selaku ummat
islam mestinya faham betul bahwa bersaudaraan antarsesama muslim memiliki
keterjalinan yang sangat kuat.
Ilustrasi di atas baru mencakup kondisi
sosial. Belum lagi dengan kondisi pendidikan, ekonomi, dan politik yang idenya
tentu saja diambil dari nasionalisme. Pada faktanya dari keseluruhan aspek,
tidak ada satupun aspek yang berhasil menyejahterakan ummat bahkan sebaliknya,
malah menyengsarakan umat dan memberikan perderitaan yang berkepanjangan. Lantas
apakah kita selaku masih perlu menjalankan sumpah pemuda untuk menjunjung
tinggi nasionalisme?
Seorang
pemuda hendaknya menjadi tonggak utama dalam revolusi. Bahkan pemuda juga
sering kali disebut dengan agent of
change karena pada saat itu daya berpikir mereka sangat kuat dan kritis
serta semangat yang sangat menggebu. Namun sayangnya keadaan para pemuda
sekarang ini sangat jauh dari harapan. Penyakit moral yang diidap para pemuda
saat ini melahirkan satu kata yaitu ‘ironis’. Selain itu, semangat kaum kuda
yang menggebu serta motivasi untuk menyuarakan aspirasi semakin tinggi malah
dipolitisasi oleh golongan tertentu guna mendapat keuntungan pertentu. sehingga
peranpemuda hanya Nampak di permukaan saja dan setelah itu tidak ada lagi. Oleh
karena hal-hal tersebutlah kita dituntut untuk mencari role model pemuda yang
memiliki karakter pemuda yang sesungguhnya.
“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad)
dengansebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman
kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah
meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka mengatakan: “Tuhan
kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami
tidak sekali-kali menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian
telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. (QS. Al-Kahfi, 18:
13-14)
Pemuda yang seperti ditunjukkan dalam ayat di ataslah yang pantas disebut
pemuda yang sesungguhnya. Dia adalah sosok yang memiliki keimanan yang tinggi,
ilmu yang luas, keteguhan hati yang kuat. Mereka menjadikan aqidah sebagai
landasan utama. Mereka menyandarkan ide-ide dengan cara pandang islam. Mereka
akan mampu membela umat dan menjaga kehormatan mereka. Mereka pulalah yang
menjadi tombak utama pusat perjuangan islam dalam mendirikan Daulah Khilafah
guna menjadi wadah tegaknya syari’ah sebagai satu-satunya solusi untuk
memecahkan persoalan umat yang saat ini pelik untuk dihadapi. Oleh karena itu
mari kita selamatkan umat dan mengubah dunia ini menjadi lebih baik dengan
menjadi pemuda dengan karakter yang sesungguhnya.






0 komentar:
Posting Komentar