Selasa, 09 Oktober 2012

27-02-11- 4.57


-->
Betapa...
Ketika lelah, peluh pun mulai mengalir dan membasahi sekujur tubuh yang sejak itu mulai kaku karena himpitan beban yang haus akan angan untuk menang.
Apa daya, tubuh yang kaku ini mulai meleleh oleh panasnya situasi yang sedang memanas di atas sebuah panggung hiburan. Saat suara alunan musik itu mulai menggema di seantero ruangan, saat itu juga timbul perasaan yang benar-benar ingin kuasingkan. Tapi dentingan gemuruh dan riak tawa yang menjadi sorotan, kian lama kian membuat batinku tersiksa.
Saat kata itu, kata yang ku nanti, kata yang memberi sebuah torehan sejarah baru yang bernilai bagiku tak kunjung ku dengar hingga titik puncak penyabaran yang tanpa kusadari sedang ku perjuangkan, dengan seketika terlintas dalam benakku, “ternyata ini rasanya, ternyata selesai semuanya”.
Aku ingin sekali sejenak untuk termangu sendiri membisu di tengah keramaian yang asing bagiku saat itu. Namun yang kupikirkan hanya aku, hanya tentang diriku, tentang pengorbanananku. Ya... sahabat, kau boleh panggil aku egois, karena begitulah keadaannya.
Tapi saat ku lemparkan pandanganku ke luar jendela, dengan jelas dapat ku lihat paras wajah dan tubuhku yang tertatih.
Karena keegoisanku, tanpa kusadari betapa banyak yang ku miliki, betapa banyak hikmah yang kutemui dikala seorang penari ilmu mengajakku untuk berfikir sejenak tentang makna cinta, dunia, cara, dan ingatan yang tak pernah ku sadari sebelumnya. Betapa suci, jujur, murni, dan itu sebuah realita yang dulu pernah terjadi dan kuulangi kembali dengan alur yang sedikit berbeda. Kini aku mengerti betapa berat untuk menjadi besar, betapa keras untuk menjadi kuat, dan betapa mudah untuk memberi...........

0 komentar:

Posting Komentar