Senin, 21 Januari 2013

Belajar Matematika lagi..


Sejak tadi pagi, masih anget deh kayanya ngebahas tentang rumus matematika. Senin pagi siapa yang gak tau sih, anak sekolahan kan pada upacara tuh, nah klo si sekolah aku sih namanya desiminasi. Pas bagian pak ketua Pembina yayasan yang ngasih sambutan, pasti aja ada peranyaan berhadiah milyaran rupiah (sebenernya gratis biaya sekolah 1 bulan aja sih =D). tapi sayangnya tadi bukan gratis DOP, hadiah yang ditawarinnya sih voucher jajan, yah lumayang kan. Namun yang bikin menariknya itu bukan sekedar tantangannya. Tapi pertanyaan yang diajukan beliau.

Pada sesi pertama, beliau bertanya tentang pelajaran apa yang melatih kita untuk berpikir secara logis. Dan pasti udah pada tau kan ya, dari semua mata pelajaran, matematika memang memiliki banyak andil dalam melatih kita supaya berpikir logis.

Setelah pertanyaan pertama itu, akhirnya sesi kedua dimulai. Berbeda dengan sesi pertama, pertanyaan yang kedua ini lebih menitikberatkan pada penggunaan matematika itu sendiri sebagai media berfikir logis. Beliau bertanya mengapa dalam matematika negative (-) dikalikan dengan negative (-) hasilnya adalah positif (+). Sebenarnya kan hal itu bisa kita jawab dengan logika matematika. Mungkin kita gak perlu bahas itu di sini kali ya coz that’s not the point.

Akhirnya, setelah beberapa kandidat penerima voucher jajan gratisan ini mengemukakan pendapatnya masing-masing, pak ketu-pun angkat bicara. Tanpa menyalahkan satu pun argument murid-muridnya itu,  beliau menjelaskan bahwa menurutnya alasan yang tepat untuk negative dikalikan dengan negative sama dengan positif yaitu karena jika diibaratkan negative adalah representative dari keburukan dan positif adalah representative dari kebaikan, maka hal itu dapat diartikan sebagai sesuatu yang “buruk” untuk sesuatu yang “buruk” pula adalah “benar”. Sama halnya dengan sesuatu yang “baik” untuk sesuatu yang “baik” adalah benar. Namun sesuatu yang “buruk” untuk sesuatu yang “baik” adalah “salah” dan begitupun sebaliknya.

Menurut pandangan pribadi sih, hal yang dimaksud dengan “benar” adalah apabila kita berada di temat yang “benar” bersama orang-orang yang “benar” pula. Mungkin kata “benar” dapat memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang. Mari kita beri contoh. Sebut saja seorang pelaku maksiat. Dia akan dianggap sebagai benar apabila ia berada di tempat prostitusi bersama orang yang senang melakukan maksiat pula. Dan adalah benar jika orang yang sholeh ditakdirkan untuk bersama orang yang sholeh pula. Neraka untuk orang seorang pendosa adalah benar dan benar pula apabila surga diperuntukan bagi orang yang gemar beribadah kepada Allah.

Baik dan buruknya nilai suatu hal/perkara tidak ditentukan oleh indra manusia saja, melaikan telah ditetapakn secara jelas dan terperinci di dalam Al Qur’an. Bukan berarti jika kita ingin dianggap sebagai perkara yang benra kita bisa mempraktikan esensi dari negative dikalikan dengan negative. Tetap saja perkara yang benar dan salah telah sangat jelas diterangkan perbedaannya. Baik dan buruknya tabiat seorang manusia tergantung dari pemikiran yang ia miliki yang mendasari segala kegiatan yang ia lakukan. Sedangkan pemikiran datang dari aqidah masing-masing individu. Karena itulah begitu pentingnya keberadaan aqidah islam yang benar yang tertanam dengan sangat kuat dalam diri manusia untuk menciptakan karakter manusia yang baik dan melahirkan manusia yang berperilaku benar. Karena kita tau bahwa setiap manusia yang telah baligh memiliki kewajiban untuk mempertanggungjawabkan dan menerima konsekuensi dari segala hal yang ia lakukan.  

0 komentar:

Posting Komentar