Arus sungai
saat itu sangat deras sekali. Hujan yang tak juga kunjung berhenti akhirnya
meluap dan menenggelamkan segala hal yang dijamahinya. Tak banyak yang bisa
dilakukan. Bahkan tak terpikir sedikitpun untuk menyelamatkan harta. Yang
terlintas hanyalah menyelamatkan diri dari amukan arus yang mencoba
menenggelamkan apapun yang dilaluinya. Tak berapa lama, suara jeritan pun mulai
terdengar. Entah siapa dan mengapa. Namun, akhirnya arus listrik pun terputus.
Tak ada lagi penerangan, semuanya gelap gulita hingga malam pun tiba.
Malam yang
dingin terpaksa harus diselimuti pakaian yang kotor dan basah. Berkumpul dengan
semua pengungsi yang baru saja kehilangan hartanya akibat terseret air bah.
Walaupun tak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan bala bantuan, namun
bagi mereka yang tiggal di kota metropolitan sepertinya tidur di tenda
pengungsian sambil bersesakan dengan orang-orang yang bahkan tak mereka kenal
adalah bukan perkara yang sepele. Setidaknya seperti itulah keadaan mereka
untuk beberapa waktu.
Fenomena
banjir sebenarnya bukanlah fenomena yang baru. Sejak bertahun-tahun lalu banjir
selalu melanda seiring datangnya musim penghujan. Bukan perkara yang aneh jika
kebanyakan orang telah siap siaga menyambut datangnya terror sang air. Namun,
perustiwa yang baru-baru ini terjadi
menjadi sangat fenomenal dengan adanya korban yang berjatuhan. Tak butuh waktu
lama untuk mengidentifikasi penyebab kematian merekan, tenggelam, tejebak,
terseret arus dan bahkan tersengat arus listrik yang menjadi sumber jeritan
tadi siang.
Mungkin
terlintas dalam pikiran kita bahwa penyebab terjadinya bencana ini adalah
banjir kiriman, tersumbatnya aliran air, tak berfungsinya lahan hijau dan masih
banyak lagi. Kemudian setelah itu kita mencoba melakukan berbagai macam upaya
penanggulangan dan tentunya pencegahan. Namun, hasilnya NIHIL. Kemudian manusia
berpikir lagi dan melakukan aktivitas lagi. Berpikir lagi, berativitas lagi,
lagi, lagi dan lagi but everything is useless.
Begitulah cara manusia menyelesaikan
masalah. Dengan berpikir dan berbuat sesuai dengan apa yang dipikirkannya.
Seorang
manusia dapat dipastikan akan berperilaku sesuai dengan apa yang ia pikirkan
tentang objek tertentu. Seperti hal tadi. Jika manusia berpikir bahwa banjir
itu disebabkan karena tersumbatnya aliran air oleh sampah, maka mekeka akan
melakukan aktivitas yang menurut mereka dapat menyelesaikan masalah
tersumbatnya saluran air tersebut.
Lantas mengapa
jika manusia yang tak pernah berhenti berpikir itu hingga sekarang permasalahan
banjir itu tak junjung juga bisa diatasi? Hal itu dikarenakan hal yang selama
ini dipikirkan sebagai penyebab suatu permasalahan tidak bersumber dari objek
utamanya. manusia itu tidak berpikir cerdas dengan menghubungkan dan memandang
aspek-aspek kehidupan yang ada sekarang ini sebagai suatu kesatuan yang saling
terhubung dan berpengaruh.
Aspek yang
saling terhubung sebagai suatu kesatuan itu terdiri atas manusia, alam, dan kehidupan.
Manusia tentu saja kita sendiri sebagai satu-satunya spesies yang mampu
berpikir dengan akal dan berperan sebagai pemimpin yang mengolah segala sumber
daya yang ada dan sekaligus bisa merusaknya. Sedaangkan alam mencakup segenap
ekosistem yang ada, dan yang dimaksud dengan kehidupan yaitu kelangsungan hidup
manusia dan alam itu sendiri.
Dengan
berpikir seperti itu, selain dapat memuaskan akal, aktivitas kita juga akan
terkontrol dan terjaga sehingga eksistensi alam dan kehidupan pun dapat
dipertahankan. Tidak akan terjadi lagi kerusakan dan korban berjatuhan. Tidak aka
nada lagi banjir yang melada sepanjang tahun. Orang-orang tak akan lagi akan
datangnya musim penghujan. Semua orang bahagia, senang dan sejahtera. Lantas bagaimana
caranya kita untuk dapat tetap berpikir seperti itu? Tentu saja dengan
mempelajarinya. Islam sebagai satu-satunya agama yang sempurnya telah
mengajarkan hal tersebut jauh sebelum para manusia menyadarinya dan baru sadar
setelah terjadi hal yang merugikan mereka. Karena itu kita membutuhkan media,
fasilitas dan segala media pendukung untuk tetap mempertahankan pemikiran
tersebut. Dengan apa lagi kita bisa dilindungi selain dengan hukum Allah yang
mengikat dengan sangat sempurna? Dengan apa lagi hukum Allah itu dapat
ditegakkan selain dengan Khilafah?






0 komentar:
Posting Komentar