Jumat, 08 Februari 2013

You Do what You Think

                   



Arus sungai saat itu sangat deras sekali. Hujan yang tak juga kunjung berhenti akhirnya meluap dan menenggelamkan segala hal yang dijamahinya. Tak banyak yang bisa dilakukan. Bahkan tak terpikir sedikitpun untuk menyelamatkan harta. Yang terlintas hanyalah menyelamatkan diri dari amukan arus yang mencoba menenggelamkan apapun yang dilaluinya. Tak berapa lama, suara jeritan pun mulai terdengar. Entah siapa dan mengapa. Namun, akhirnya arus listrik pun terputus. Tak ada lagi penerangan, semuanya gelap gulita hingga malam pun tiba.
Malam yang dingin terpaksa harus diselimuti pakaian yang kotor dan basah. Berkumpul dengan semua pengungsi yang baru saja kehilangan hartanya akibat terseret air bah. Walaupun tak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan bala bantuan, namun bagi mereka yang tiggal di kota metropolitan sepertinya tidur di tenda pengungsian sambil bersesakan dengan orang-orang yang bahkan tak mereka kenal adalah bukan perkara yang sepele. Setidaknya seperti itulah keadaan mereka untuk beberapa waktu.
Fenomena banjir sebenarnya bukanlah fenomena yang baru. Sejak bertahun-tahun lalu banjir selalu melanda seiring datangnya musim penghujan. Bukan perkara yang aneh jika kebanyakan orang telah siap siaga menyambut datangnya terror sang air. Namun, perustiwa  yang baru-baru ini terjadi menjadi sangat fenomenal dengan adanya korban yang berjatuhan. Tak butuh waktu lama untuk mengidentifikasi penyebab kematian merekan, tenggelam, tejebak, terseret arus dan bahkan tersengat arus listrik yang menjadi sumber jeritan tadi siang.

Mungkin terlintas dalam pikiran kita bahwa penyebab terjadinya bencana ini adalah banjir kiriman, tersumbatnya aliran air, tak berfungsinya lahan hijau dan masih banyak lagi. Kemudian setelah itu kita mencoba melakukan berbagai macam upaya penanggulangan dan tentunya pencegahan. Namun, hasilnya NIHIL. Kemudian manusia berpikir lagi dan melakukan aktivitas lagi. Berpikir lagi, berativitas lagi, lagi, lagi dan lagi but everything is useless.  Begitulah cara manusia menyelesaikan masalah. Dengan berpikir dan berbuat sesuai dengan apa yang dipikirkannya.
Seorang manusia dapat dipastikan akan berperilaku sesuai dengan apa yang ia pikirkan tentang objek tertentu. Seperti hal tadi. Jika manusia berpikir bahwa banjir itu disebabkan karena tersumbatnya aliran air oleh sampah, maka mekeka akan melakukan aktivitas yang menurut mereka dapat menyelesaikan masalah tersumbatnya saluran air tersebut.
Lantas mengapa jika manusia yang tak pernah berhenti berpikir itu hingga sekarang permasalahan banjir itu tak junjung juga bisa diatasi? Hal itu dikarenakan hal yang selama ini dipikirkan sebagai penyebab suatu permasalahan tidak bersumber dari objek utamanya. manusia itu tidak berpikir cerdas dengan menghubungkan dan memandang aspek-aspek kehidupan yang ada sekarang ini sebagai suatu kesatuan yang saling terhubung dan berpengaruh.
Aspek yang saling terhubung sebagai suatu kesatuan itu terdiri atas manusia, alam, dan kehidupan. Manusia tentu saja kita sendiri sebagai satu-satunya spesies yang mampu berpikir dengan akal dan berperan sebagai pemimpin yang mengolah segala sumber daya yang ada dan sekaligus bisa merusaknya. Sedaangkan alam mencakup segenap ekosistem yang ada, dan yang dimaksud dengan kehidupan yaitu kelangsungan hidup manusia dan alam itu sendiri.
Jika kita berpikir dengan menghubungkan ketiga aspek tersebut sebagai suatu kesatuan yang saling terikat satu sama lain juga melibatkan gejala yang terjadi sebelum dan sesudah aktivitas dilakukan, maka tentu saja tidak akan terjadi ketidakseimbangan yang menyebabkan kerudasan di muka bumi ini. Contohnya apabila kita berpikir bahwa segala aktivitas manusia akan berpengaruh terhadap eksitensi alam dan kehidupan, maka kita akan berpikir dua kali untuk mengeksploitasi hutan karena kita sudah berpikir bahwa jika kita mengekspoitasi hutan, maka akan banyak hewan yang kehilangan tempat tinggal mereka. Hewan-hewan tersebut akan turun dan menyerang warga sehingga mengakibatkan muncculnya rasa ketiakamanan. Selain ekosistem menjadi terganggu, bencana seperti banjir dan longsor pun akan melanda dan bisa jadi mengakibatkan jatuhnya korban. Akhirnya hal ini akan mengganggu kelangsungan hidup. Belum lagi kekeringan yang akan melanda manusia di masa yang akan dating karena tidak adanya akar-akar yang menyerap dan menyimpan cadangan air tanah.
Dengan berpikir seperti itu, selain dapat memuaskan akal, aktivitas kita juga akan terkontrol dan terjaga sehingga eksistensi alam dan kehidupan pun dapat dipertahankan. Tidak akan terjadi lagi kerusakan dan korban berjatuhan. Tidak aka nada lagi banjir yang melada sepanjang tahun. Orang-orang tak akan lagi akan datangnya musim penghujan. Semua orang bahagia, senang dan sejahtera. Lantas bagaimana caranya kita untuk dapat tetap berpikir seperti itu? Tentu saja dengan mempelajarinya. Islam sebagai satu-satunya agama yang sempurnya telah mengajarkan hal tersebut jauh sebelum para manusia menyadarinya dan baru sadar setelah terjadi hal yang merugikan mereka. Karena itu kita membutuhkan media, fasilitas dan segala media pendukung untuk tetap mempertahankan pemikiran tersebut. Dengan apa lagi kita bisa dilindungi selain dengan hukum Allah yang mengikat dengan sangat sempurna? Dengan apa lagi hukum Allah itu dapat ditegakkan selain dengan Khilafah? 

0 komentar:

Posting Komentar