Sabtu, 09 Februari 2013

The Miracle of Brain


Otak manusia adalah keajaiban terbesar penciptaan. Organ kecil yang beratnya hanya 1500 namun mengandung sel-sel saraf lebih dari jumlH orang-orang di bumi. Setiap sel saraf terhubung satu sama lain melalui ratusan cabang-cabang kecil. pertukaran informasi antara mereka diibaratkan sebagai brisker dari sentral telepon dari ibu kota yang sibuk. Jumlah »sambungan telepon« dalam satu otak melebihi jumlah bintang di galaksi. Jumlahnya lebih dari 1.000.000.000.000! Tidak ada komputer atau telepon yang mampu menyimpan dan dan melakukan pertukaran begitu banyak informasi di dalam sebuah ruang kecil seperti yang diduduki oleh otak manusia.
Subhanallah, begitu indahnya bagian tubuh kita yang satu ini. Tanpa kita sadari dia berfungsi dengan sistem yang sangat kompleks. Dia akan terus bekerja tanpa harus kita perintahkan. Mereka tidak mendapatkan pelatihan sebelumnya untuk dapat bekerja dengan begitu teraturnya. Bisa kita bayangkan jika otak kita merasa lelah kemudian berhenti bekerja untuk sedetik saja, apa yang akan terjadi? Tapi otak kita tak melakukan itu. Masing-masing sel bekerja sesuai dengan proporsi mereka dan tak ada satupun yang menyalahi aturan. Itulah sepercik keajaiban yang Allah ciptakan untuk makhluk-Nya yang terkadang kita tak pernah menyadari dan mensyukurinya. Begitulah Allah memilih manusia untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi ini karena manusia diciptakan dengan kemampuan untuk berpikir dan menggunakan akalnya dengan baik.

Akal dapat membawa manusia menjadi sangat taqwa kepada Allah, namun dengan akal pula lah kita dapat menjadi sangat membangkang kepada-Nya. Akal memiliki kecenderungan untuk berpikir tanpa batas. Hal itulah yang menyebabkan terjadinya perkembangan pada peradaban manusia, namun yang menyebabkan terjadi kerusakan pula di bumi tempat manusia itu tinggal.
Ciri berkembangnya suatu peradaban ditandai dengan perkembangan pemikiran mereka. pemikiran manusia mepengaruhi cara pandangnya mengenai suatu hal. Al Qur’an menggolongkan makhluk hidup itu menjadi tiga golongan utama yaitu manusia, alam semesta dan kehidupan. Cara pandang yang bernar adalah dengan mengkaitkan ketiga hal tersebut sebagai suatu kesatuan yang saling tergantung satu sama lain serta menghubungkannya terhadap masa sebelum dan sesudahnya.

Cara pandang seperti itu akan berimbas terhadap aktivitas yang akan dilakukannya. Aturan seperti itu telah sejak zaman dahulu kala diajarkan oleh Islam melalui rukun iman. Rukun iman bukan hanya sekedar pengetahuan yang wajib kita yakini melainkan suatu perangkat dasar yang wajib kita pikirkan dan renungkan. Karena dengan adanya proses berpikir maka akal kita akan terpuaskan sehingga meningkatkan keyakinan dalam hati kita atas penciptaan Allah.
Sebagai makhluk yang berpikir, sudah menjadi fitrah manusia untuk selalu ingin mengetahui segala sesuatu. Karena itu, manusia akan beraktivitas sesuai dengan apa yang ia pikirkan guna memenuhi keingintahuannya atau memuaskan akalnya. Kepuasan akan berbuntut kepada ketengan jiwa. Jiwa yang tenang tentu saja merupakan hal yang manusia inginkan. Oleh karena itu setiap muslim hendaknya melakukan aktivitas yang didasari atas pemikiran yang dapat diterima (dibuktikan secara akal) dan menjauhi serta meninggalkan aktivitas tidak tidasari dengan pemikiran yang tidak dapat dibuktikan secara akal, seperti membaca ramalan, berobat dengan cara tidak rasional, dll. Oleh karena itu, belajarlah bagaimana menggunakan akal dengan baik.

0 komentar:

Posting Komentar