Otak
manusia adalah keajaiban terbesar penciptaan. Organ kecil yang beratnya hanya
1500 namun mengandung sel-sel saraf lebih dari jumlH orang-orang di bumi. Setiap
sel saraf terhubung satu sama lain melalui ratusan cabang-cabang kecil.
pertukaran informasi antara mereka diibaratkan sebagai brisker dari sentral
telepon dari ibu kota yang sibuk. Jumlah »sambungan telepon« dalam satu otak
melebihi jumlah bintang di galaksi. Jumlahnya lebih dari 1.000.000.000.000!
Tidak ada komputer atau telepon yang mampu menyimpan dan dan melakukan pertukaran
begitu banyak informasi di dalam sebuah ruang kecil seperti yang diduduki oleh
otak manusia.
Subhanallah,
begitu indahnya bagian tubuh kita yang satu ini. Tanpa kita sadari dia
berfungsi dengan sistem yang sangat kompleks. Dia akan terus bekerja tanpa
harus kita perintahkan. Mereka tidak mendapatkan pelatihan sebelumnya untuk
dapat bekerja dengan begitu teraturnya. Bisa kita bayangkan jika otak kita
merasa lelah kemudian berhenti bekerja untuk sedetik saja, apa yang akan
terjadi? Tapi otak kita tak melakukan itu. Masing-masing sel bekerja sesuai
dengan proporsi mereka dan tak ada satupun yang menyalahi aturan. Itulah sepercik
keajaiban yang Allah ciptakan untuk makhluk-Nya yang terkadang kita tak pernah
menyadari dan mensyukurinya. Begitulah Allah memilih manusia untuk menjadi
khalifah (pemimpin) di muka bumi ini karena manusia diciptakan dengan kemampuan
untuk berpikir dan menggunakan akalnya dengan baik.
Akal dapat
membawa manusia menjadi sangat taqwa kepada Allah, namun dengan akal pula lah
kita dapat menjadi sangat membangkang kepada-Nya. Akal memiliki kecenderungan
untuk berpikir tanpa batas. Hal itulah yang menyebabkan terjadinya perkembangan
pada peradaban manusia, namun yang menyebabkan terjadi kerusakan pula di bumi
tempat manusia itu tinggal.
Ciri berkembangnya
suatu peradaban ditandai dengan perkembangan pemikiran mereka. pemikiran
manusia mepengaruhi cara pandangnya mengenai suatu hal. Al Qur’an menggolongkan
makhluk hidup itu menjadi tiga golongan utama yaitu manusia, alam semesta dan
kehidupan. Cara pandang yang bernar adalah dengan mengkaitkan ketiga hal
tersebut sebagai suatu kesatuan yang saling tergantung satu sama lain serta
menghubungkannya terhadap masa sebelum dan sesudahnya.
Cara pandang
seperti itu akan berimbas terhadap aktivitas yang akan dilakukannya. Aturan seperti
itu telah sejak zaman dahulu kala diajarkan oleh Islam melalui rukun iman. Rukun
iman bukan hanya sekedar pengetahuan yang wajib kita yakini melainkan suatu
perangkat dasar yang wajib kita pikirkan dan renungkan. Karena dengan adanya
proses berpikir maka akal kita akan terpuaskan sehingga meningkatkan keyakinan
dalam hati kita atas penciptaan Allah.
Sebagai makhluk
yang berpikir, sudah menjadi fitrah manusia untuk selalu ingin mengetahui
segala sesuatu. Karena itu, manusia akan beraktivitas sesuai dengan apa yang ia
pikirkan guna memenuhi keingintahuannya atau memuaskan akalnya. Kepuasan akan
berbuntut kepada ketengan jiwa. Jiwa yang tenang tentu saja merupakan hal yang
manusia inginkan. Oleh karena itu setiap muslim hendaknya melakukan aktivitas
yang didasari atas pemikiran yang dapat diterima (dibuktikan secara akal) dan
menjauhi serta meninggalkan aktivitas tidak tidasari dengan pemikiran yang
tidak dapat dibuktikan secara akal, seperti membaca ramalan, berobat dengan
cara tidak rasional, dll. Oleh karena itu, belajarlah bagaimana menggunakan akal dengan baik.






0 komentar:
Posting Komentar