Jumat, 27 Desember 2013

PR Ekonomi Indonesia 2014

Berbagai kejadian dan fakta kondisi ekonimi selama tahun 2013 telah memberikan suatu pelajaran bahwa sistem perekonomian yang dianut Indinesia saat ini, yaitu sistem kapitalis, tidaklah lebih baik dari sistem perekonomian islam.
            Bermacam-macam tuntutan masyarakat mengenai haknya selalu gencar dilakukan selama hamper di setiap momen dan kesempatan. Kita sebut saja Hari Buruh Internasional 1 Mei silam. Jutaan buruh turun ke jalanan. Mereka menuntuk kenaikan upah (uang). Hal tersebut bukan sesuatu yang aneh mengingat uang berfungsi sebagai satu-satunya jarring-jaring pengaman karena ketiadaannya sistem jaminan sosial yang memadai serta perlindungan sosial yang jauh dari kata cukup. Berbanding terbalik dengan para pemilik modal, harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia mencatat rekor tertinggi baru yaitu 5.060,919, dimana mereka dapat mendulang keuntungan sebesar-besarnya di atas penderitaan yang tereksploitasi.
            Tak terlepas dari fakta tersebut, selama Januari-Oktober 2013, pemburukan ekonomi terjadi dengan adanya defisist BBM yang berlangsung selama Januari-Oktober 2013.
Untuk menutupi defisist tersebutkekayaan alam semakin dikuras. Porsi ekspor kekayaan alam dalam bentuk mentah dan diolah ala kadarnya meningkat tajam dari sekitar 40 persen tahun 2001 menjadi sekitar 65 persen tahun 2011. Hampir separuh ekspor kita disumbang hanya oleh 6 jenis komoditas primer: batubara, gas alam, minyak sawit, minyak mentah, karet, dan tembaga. Tak pelak lagi, telah terjadi ekstraktifikasi dalam struktur ekspor Indonesia seperti di masa penjajahan.
            Berbagai upaya gencar dilakukan demi memperbaiki sistem perekonomian yang ada, namun penyelesaian yang ada justru adalah masalah baru yang tak kalah mengerikan. Sistem kapitalis memandang bahwa modal, berupa faktor produksi adalah sumber masalah dari segala permasalahan ekonomi, karena itu sistem ini mendorong para pelakunya untuk mencari modal. Indonesia telah kehilangan kesempatannya utnuk mencari modal sendiri dari hasil kekayaan  karena sebesar 70-80% kepemilikannya sudah berpndah tangan kepada pihak asing. Oleh sebab itulah transaksi pinjam-meninjam menjadi andalan Indonesia. Hingga bulan November utang pemerintah mencapai Rp 2.354,54 triliun, naik Rp 376,83 triliun (Rp 34,26 triliun perbulan) dari utang di akhir 2012 sebesar Rp 1.977,71 triliun.
            Di sinilah justru permasalah baru dimulai, sebagai balas jasa atas hal tersebut, tentulah pemerintah Indonesia tidak memiliki wewenangyang kuat untuk menolak segala perintah dankebijakan pihak asing. Dampaknya dengan berbagai dalih dan alasan, mulai Sabtu (22/6/2013) harga BBM bersubsidi dinaikkan pemerintah. Premium menjadi Rp 6.500 perliter dan solar Rp 5.500 perliter, yang tentu saja sama halnya dengan membebankan utang pada rakyat. Kondisi ekonomi yang belum pulih akibat krisis ekonimi, membuat rakyat makin susah, kondisi ekonomi negeri ini merosot, kemiskinan yang terus beranjak menuju ke posisi puncak, angka pengangguran pun sangat mengenaskan dengan 7,39 juta orang per Agustus 2013 (6,25 % ), meningkat 6,14 % dari periode yang sama 2012 berjumlah 7,24 juta orang.

            Belum selesai sampai di sana, tindakan yang dilakukan pemerintah justru amat sangat menyengsarakan raktyat, pengeluaran APBN lebih banyak untuk kepentingan birokrasi termasuk untuk fasilitas dan perjalanan dinas, dan untuk bayar utang dan bunganya. Sementara, pengeluaran langsung kepada rakyat—diantaranya subsidi— terus dikurangi. Namun pungutan pajak atas rakyat dinaikkan dari Rp. 1.148,36 triliun (76,5%) menjadi Rp 1.280,4 triliun (76,8%). Terlihatlah kesewenang-wenangan para penguasa atas rakyatnya.
            Tak sejalan dengan kondisi di lapangan, berita yang menyebar malah menggambarkan kestabilan perekonomian di Indonesia. Berbagai agensi melakukan penilaian terhadap perekonomian Indonesia dimana tidak satu agensi pemeringkat yang menurunkan peringkat Indonesia. Lima agensi pemeringkat yang rutin memberikan penilaian memberikan outlook stabil, tak satu pun yang memberikan outlook negatif. Empat dari lima agensi pemeringkat telah memberikan status investment grade. Tinggal Stadard & Poor’s saja yang masih menilai Indonesia satu notchdi bawah investment grade.Tentu saja berita tersebut telah dipolitisasi mengingat menjelangnya momentum pemilihan umum 2014.
            Fakta-fakta di atas telah sangat jelas menunjukkan titik-titik keruntuhan sistem kapitalis yang hingga kini terus diagung-agungkan. Aksi-aksi yang dilakukan untuk menuntut perubahan menunjukkan bahwa rakyat telah sadar akan ketidakcocokan sistem yang berlaku saat ini dengan kondisi yang terjadi. Rakyat menginginkan sistem baru yang dapat memecahkan persoalan secara tuntas dari akarnya yang bekerja secara menyeluruh. Sistem seperti ini pernah ada dan pernah diterapkan juga pernah dirasakan keberhasilannya mengelola ekonomi dunia selama hampir 13 abad lamanya. Sistem itu adalah sistem ekonomi Islam.
            Sitem ekonomi islam dapat bertahan sekian lamanya karena kestabilannya mengendalikan perekonomian. Hal ini disebabkan karena dalam ekonomi islam memiliki konsep kepemilikan yang jelas. Islam menjadikan kepemilikan itu ada tiga macam. Pertama: kepemilikan umum. Pemasukannya didistribusikan kepada masyarakat setelah dikurangi beban biaya. Kepemilikan umum mencakup kepemilikan atas tambang seperti logam, minyak ataupun gas. Semua itu merupakan milik umum/rakyat; negara, individu atau perusahaan swasta tidak boleh memilikinya. Pemasukannya didistribusikan kepada mereka dalam bentuk zatnya atau berupa pelayanan setelah dikurangi biaya. Kedua: kepemilikan negara. Kepemilikan ini dikelola oleh negara dalam pos pendapatan negara. Hasilnya dibelanjakan untuk berbagai kepentingan negara seperti investasi negara di dalam pertanian, industri atau perdagangan yang tidak termasuk di dalam kepemilikan umum; atau dibelanjakan untuk mengembalikan keseimbangan di antara masyarakat di dalam masalah sirkulasi harta. Ketiga: kepemilikan pribadi. Individu-individu dan perusahaan-perusahaan bisa memiliki pertanian, industri dan perdagangan yang tidak termasuk dalam kepemilikan umum dan kepemilikan negara.
            Meskipun Sistem Ekonomi Islam sebenarnya telah secara riil diterapkan selama jangka waktu paling lama dalam sejarah, namun dunia seolah menutup kedua matanya dan tidak membahasnya
            Sesungguhnya Sistem Ekonomi Islam di dalam Daulah Khilafah Islamiyahlah satu-satunya sistem pilihan yang bisa memberikan kepada manusia kehidupan ekonomi yang aman dan lurus, kosong dari krisis. Pasalnya, Sistem Ekonomi Islam adalah satu-satunya sistem ekonomi yang telah Allah Swt. turunkan. Dialah Pencipta dan Dia Mahatahu atas apa yang layak bagi ciptaan-Nya (QS al-Mulk [67]: 14).

Sumber :

0 komentar:

Posting Komentar