Bermacam-macam
tuntutan masyarakat mengenai haknya selalu gencar dilakukan selama hamper di
setiap momen dan kesempatan. Kita sebut saja Hari Buruh Internasional 1 Mei
silam. Jutaan buruh turun ke jalanan. Mereka menuntuk kenaikan upah (uang). Hal
tersebut bukan sesuatu yang aneh mengingat uang berfungsi sebagai satu-satunya
jarring-jaring pengaman karena ketiadaannya sistem jaminan sosial yang memadai
serta perlindungan sosial yang jauh dari kata cukup. Berbanding terbalik dengan
para pemilik modal, harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia mencatat rekor
tertinggi baru yaitu 5.060,919, dimana mereka dapat mendulang keuntungan
sebesar-besarnya di atas penderitaan yang tereksploitasi.
Tak terlepas dari fakta tersebut,
selama Januari-Oktober 2013, pemburukan ekonomi terjadi dengan adanya defisist
BBM yang berlangsung selama Januari-Oktober 2013.
Untuk menutupi defisist
tersebut, kekayaan alam semakin dikuras. Porsi ekspor
kekayaan alam dalam bentuk mentah dan diolah ala kadarnya meningkat tajam dari
sekitar 40 persen tahun 2001 menjadi sekitar 65 persen tahun 2011. Hampir
separuh ekspor kita disumbang hanya oleh 6 jenis komoditas primer: batubara,
gas alam, minyak sawit, minyak mentah, karet, dan tembaga. Tak pelak lagi,
telah terjadi ekstraktifikasi dalam struktur ekspor Indonesia seperti di masa
penjajahan.
Berbagai upaya gencar dilakukan demi memperbaiki sistem perekonomian yang
ada, namun penyelesaian yang ada justru adalah masalah baru yang tak kalah
mengerikan. Sistem kapitalis memandang bahwa modal, berupa faktor produksi
adalah sumber masalah dari segala permasalahan ekonomi, karena itu sistem ini
mendorong para pelakunya untuk mencari modal. Indonesia telah kehilangan
kesempatannya utnuk mencari modal sendiri dari hasil kekayaan karena sebesar 70-80% kepemilikannya sudah
berpndah tangan kepada pihak asing. Oleh sebab itulah transaksi pinjam-meninjam
menjadi andalan Indonesia. Hingga bulan November utang pemerintah mencapai Rp 2.354,54
triliun, naik Rp 376,83 triliun (Rp 34,26 triliun perbulan) dari utang di akhir
2012 sebesar Rp 1.977,71 triliun.
Di
sinilah justru permasalah baru dimulai, sebagai balas jasa atas hal tersebut,
tentulah pemerintah Indonesia tidak memiliki wewenangyang kuat untuk menolak
segala perintah dankebijakan pihak asing. Dampaknya dengan berbagai dalih dan
alasan, mulai Sabtu (22/6/2013) harga BBM bersubsidi dinaikkan pemerintah.
Premium menjadi Rp 6.500 perliter dan solar Rp 5.500 perliter, yang tentu saja
sama halnya dengan membebankan utang pada rakyat. Kondisi ekonomi yang belum
pulih akibat krisis ekonimi, membuat rakyat makin susah, kondisi ekonomi negeri
ini merosot, kemiskinan yang terus beranjak menuju ke posisi puncak, angka
pengangguran pun sangat mengenaskan dengan 7,39 juta orang per Agustus 2013
(6,25 % ), meningkat 6,14 % dari periode yang sama 2012 berjumlah 7,24 juta
orang.
Belum
selesai sampai di sana, tindakan yang dilakukan pemerintah justru amat sangat
menyengsarakan raktyat, pengeluaran APBN lebih banyak untuk kepentingan
birokrasi termasuk untuk fasilitas dan perjalanan dinas, dan untuk bayar utang
dan bunganya. Sementara, pengeluaran langsung kepada rakyat—diantaranya
subsidi— terus dikurangi. Namun pungutan pajak atas rakyat dinaikkan dari Rp.
1.148,36 triliun (76,5%) menjadi Rp 1.280,4 triliun (76,8%). Terlihatlah
kesewenang-wenangan para penguasa atas rakyatnya.
Tak sejalan dengan kondisi di
lapangan, berita yang menyebar malah menggambarkan kestabilan perekonomian di
Indonesia. Berbagai agensi melakukan penilaian terhadap perekonomian Indonesia
dimana tidak satu agensi pemeringkat yang menurunkan peringkat Indonesia. Lima
agensi pemeringkat yang rutin memberikan penilaian memberikan outlook stabil, tak satu pun yang memberikan outlook negatif. Empat dari lima agensi
pemeringkat telah memberikan status investment grade.
Tinggal Stadard & Poor’s saja yang masih menilai Indonesia satu notchdi bawah investment grade.Tentu
saja berita tersebut telah dipolitisasi mengingat menjelangnya momentum pemilihan
umum 2014.
Fakta-fakta di atas
telah sangat jelas menunjukkan titik-titik keruntuhan sistem kapitalis yang
hingga kini terus diagung-agungkan. Aksi-aksi yang dilakukan untuk menuntut
perubahan menunjukkan bahwa rakyat telah sadar akan ketidakcocokan sistem yang
berlaku saat ini dengan kondisi yang terjadi. Rakyat menginginkan sistem baru
yang dapat memecahkan persoalan secara tuntas dari akarnya yang bekerja secara
menyeluruh. Sistem seperti ini pernah ada dan pernah diterapkan juga pernah
dirasakan keberhasilannya mengelola ekonomi dunia selama hampir 13 abad
lamanya. Sistem itu adalah sistem ekonomi Islam.
Sitem ekonomi islam
dapat bertahan sekian lamanya karena kestabilannya mengendalikan perekonomian.
Hal ini disebabkan karena dalam ekonomi islam memiliki konsep kepemilikan yang
jelas. Islam menjadikan kepemilikan itu ada tiga
macam. Pertama:
kepemilikan umum. Pemasukannya didistribusikan kepada masyarakat setelah
dikurangi beban biaya. Kepemilikan umum mencakup kepemilikan atas tambang
seperti logam, minyak ataupun gas. Semua itu merupakan milik umum/rakyat;
negara, individu atau perusahaan swasta tidak boleh memilikinya. Pemasukannya
didistribusikan kepada mereka dalam bentuk zatnya atau berupa pelayanan setelah
dikurangi biaya. Kedua: kepemilikan negara. Kepemilikan ini dikelola oleh negara dalam
pos pendapatan negara. Hasilnya dibelanjakan untuk berbagai kepentingan negara
seperti investasi negara di dalam pertanian, industri atau perdagangan yang
tidak termasuk di dalam kepemilikan umum; atau dibelanjakan untuk mengembalikan
keseimbangan di antara masyarakat di dalam masalah sirkulasi harta. Ketiga: kepemilikan pribadi. Individu-individu dan
perusahaan-perusahaan bisa memiliki pertanian, industri dan perdagangan yang
tidak termasuk dalam kepemilikan umum dan kepemilikan negara.
Meskipun Sistem
Ekonomi Islam sebenarnya telah secara riil diterapkan selama jangka waktu
paling lama dalam sejarah, namun dunia seolah menutup kedua matanya dan tidak
membahasnya
Sesungguhnya
Sistem Ekonomi Islam di dalam Daulah Khilafah Islamiyahlah satu-satunya sistem
pilihan yang bisa memberikan kepada manusia kehidupan ekonomi yang aman dan
lurus, kosong dari krisis. Pasalnya, Sistem Ekonomi Islam adalah satu-satunya
sistem ekonomi yang telah Allah Swt. turunkan. Dialah Pencipta dan Dia Mahatahu
atas apa yang layak bagi ciptaan-Nya (QS al-Mulk [67]: 14).
Sumber :






0 komentar:
Posting Komentar